Samoda, New Blood for Maha Gotra Ganesha!

Roda waktu berputar begitu cepat. Satu persatu kader terbaik Unit Kesenian Bali Maha Gotra Ganesha ITB berganti status menjadi anggota luar biasa. Di sisi lain, metabolisme organisasi kesenian ini tak boleh berhenti sedetik pun. Suksesor! Itulah yang diperlukan oleh MGG, suksesor bagi kader yang telah meninggalkan kampus Ganesha ini. Sabtu, 8 Desember 2012, suksesor itu datang memberikan “darah baru” pada tiap jaringan di organisasi MGG. Mereka datang dengan membawa semangat keceriaan. Mereka menyebut dirinya, SAMODA (sansekerta : ceria) MGG 2012!

samoda

Selama masa PPAB, massa MGG telah menilai banyak hal dari anggota baru keluarga ini. Tak ada yang sempurna, itulah kalimat yang tepat menggambarkan Samoda. Samoda memiliki antusias yang tinggi pada kesenian bali, namun ppab yang berjalan selama beberapa bulan ternyata tak sanggup memberi mereka bekal untuk menampilkan sebuah performance yang apik pada Pentas Evaluasi. Hal ini harusnya menjadi bahan kontemplasi bagi panitia PPAB yang domotori oleh anggota MGG’11. Merupakan tanggung jawab bagi ketua terpilih, Agung Bima bersama pengurusnya untuk meningkatkan kemampuan berkesenian Samoda setidaknya sejajar  dengan kemampuan anggota MGG yang lain.

Dari sisi organisasi, Samoda yang beranggotakan 38 orang (dengan 6 org berstatus anggota bersyarat) belum memiliki kompetensi yang cukup, kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa TPB yang masih beradaptasi dengan kultur kemahasiswaan di ITB. Mereka masih berkutat pada masalah klasik: manajemen waktu. Beberapa dari mereka memiliki potensi yang kuat untuk menjadi pemimpin dan memiliki pola berpikir yang kritis. Dengan kemauan belajar yang tinggi, diharapkan mereka banyak mendapat pembelajaran saat menjadi bagian terbawah dari piramida organisasi MGG.

Dilihat secara umum, Samoda memiliki rasa kekeluargaan yang cukup tinggi. Dengan membawa semangat keceriaan tak sulit rasanya mereka berbaur satu sama lain. Masih terdapat celah pemisah kedekatan antar mereka karena perbedaan latar belakang asal daerah. Jika metode PPAB tak dapat menyatukan mereka secara utuh, maka waktulah yang akan menyelesaikannya. Kekeluargaan adalah tali pemersatu antar anggota. Maka tak salah rasanya, jika kita hilangkan rasa ego senioritas kita, menyambut hangat mereka dengan menyapa dan menawarkan jabat tangan erat untuk bersama berkarya. Terlepas dari apapun kelebihan dan kekurangan mereka, Samoda adalah anggota baru keluarga MGG dan merupakan kewajiban kita bersama baik itu anggota biasa dan anggota luar biasa untuk membimbing mereka menggerakkan roda organisasi ini menuju puncak keemasan MGG.

Selamat datang Samoda, Selamat berkarya!

“We weren’t great when we started, but we become to be great because we are ganesha great family”

#Ngurah Pandu

The Chosen One : I Gusti Agung Gde Bimayuda!

Minggu, 3 Desember 2012 adalah satu hari penting bagi Unit Kesenian Bali Maha Gotra Ganesha ITB. Hari dimana nasib unit kesenian yang bersekretariat di Gedung Eks MKOR ini ditentukan setahun ke depan. Yap! Setelah perjalanan panjang masa kampanye dan pencoblosan yang begitu alot, tibalah saat dimana MGG mempunyai seorang pemimpin baru, pemimpin yang melanjutkan masa-masa Kejayaan MGG, pemimpin yang bertanggung jawab seutuhnya kemana arah perahu layar organisasi ini dilabuhkan. He is The Chosen One, I Gusti Agung Gde Bimayuda, mahasiswa Teknik Mesin 2010.

Image

Setelah lengkap saksi-saksi perhitungan suara dari BP, DPA perwakilan masing-masing angkatan, dan kedua calon ketua beserta tim suskesnya, kotak suara pun dibuka oleh I Ketut Hendra Wiryasuta, sang ketua pemilu. Tak begitu banyak massa MGG yang hadir saat perhitungan suara ini dibandingkan dengan total jumlah anggota biasa sebanyak 104 orang. Bahkan DPA perwakilan angkatan 2010 pun tak ada menghadiri hari penting ini dan akhirnya angkatan 2010 pun diwakilkan oleh Erawijantari, salah satu anggota MGG’10. Semoga ini bukan menjadi satu pertanda, kurangnya dukungan angkatan ini terhadap kepengurusan BP MGG 2012/2013.

Berdasarkan surat suara yang terhitung, ada sejumlah 68 orang yang mencoblos dari 104 orang total anggota biasa MGG. Hal ini mengisyaratkan kurang lebih hanya 65% tingkat antusiasme anggota MGG dalam memilih pemimpin baru mereka. Anggota pun kebanyakan cenderung mencoblos di hari pertama dan di hari terakhir masa pencoblosan. Adapun hasil rekapitulasi perhitungan, Dedi mendapat 22 suara, Bima mendapat 38 suara, 8 suara tidak sah, dan tidak ada abstein.

Image

Terpilih sudah pemimpin baru MGG, Agung Bima dengan mengusung visinya MGG yang Proaktif dan Komunikatif. Setelah hasil rekapitulasi pemilu disahkan, calon ketua tidak terpilih, Made Dedi Ariantina mengucapkan terima kasih kepada anggota yang telah mendukungnya hingga akhir perhitungan suara dan ia berpesan kepada semua anggota agar terus berkontribusi aktif dan mendukung proker ketua terpilih. Tak lama berselang, Agung Bima pun menyampaikan pidato kemenangannya sembari mengucapkan terima kasih kepada massa MGG yang telah mmpercayainya selama setahun ke depan mengibarkan bendera MGG di puncak tertinggi kampus Ganesha!  Ia memohon dukungan seluruh anggota MGG dalam tiap rangkaian acara MGG dan have fun dalam mengikutinya.

Image

Kelancaran proses pemilu tak terlepas dari kerja keras para panitia pemilu. Tak berlebihan kiranya, apabila kita angkat topi buat panitia pemilu yang terdiri dari Hendra MGG’10, Widhi MGG’11, Sri MGG’11, Iwed MGG’11, dan Cahaya MGG’11 yang telah melahirkan pemimpin baru untuk MGG. Terlepas dari siapapun ketua terpilih MGG periode 2012/2013, mari bersama kita dukung sang ketua terpilih dalam mengemban tugas mulia meneruskan rekam jejak unit kesenian yang telah berumur 41 tahun ini. Seorang pemimpin adalah orang biasa yang membawa timnya melakukan hal-hal yang luar biasa. One Team One Direction!

Ngurah Pandu

Setahun Dewa Memimpin MGG!

ImageSigap, ambisius, perfeksionis, banyak bekerja sedikit bicara, merakyat dan punya determinasi yang tinggi. Ia adalah tipe pemimpin yang sangat hati-hati. Segala keputusan penting yang menyangkut MGG, haruslah berada di tangannya. Seakan menemukan sebuah keluarga baru, begitulah kesan pertama yang ia rasakan sejak bergabung menjadi anggota MGG. Berawal dari rasa nyaman, ia pun memilih jalan hidupnya menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap hidup mati organisasi kesenian yang berdiri sejak tahun 1971 ini. Ia adalah Dewa Made Dwi Parmana, Ketua Unit Kesenian Bali Maha Gotra Ganesha ITB periode 2011/2012.

Tak terasa, berlalu sudah setahun kepengurusan Dewa memimpin armadanya meneruskan masa-masa kejayaan MGG.  Hal yang paling berkesan baginya adalah saat dimana ia berjuang bersama panitia Dies Natalis XLI MGG ‘Bali Kreasi’ mengelilingi kota jakarta untuk menyebarkan undangan FTB/FB ke sanggar-sanggar tari bali sekaligus mencari sponsor ke perusahaan-perusahaan yang potensial. Sebulan menjelang dies,  tiap weekend ia rela menghabiskan waktunya bertolak dari satu tempat ke tempat lain menaklukkan jalanan kota metropolitan.

Tak sia-sia tetes keringat dan pengorbanan yang ia curahkan mendampingi Ian Maheswara, sang ketua dies mengeksekusi 4 event besar sekaligus, Pelatihan Tari dan Tabuh Bali (PTTB), Festival Tari Bali (FTB), Festival Baleganjur (FB) dan Malam Pagelaran Dies Natalis XLI ‘Bali Kreasi’.  Merupakan sebuah prestasi yang tak ternilai baginya, peserta FTB XVII mencapai 284 orang dan merupakan jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah dilaksanakannya FTB. Terlebih lagi, pada malam pagelaran yang dilaksanakan di panggung terbuka Dago Tea House, ia mampu mendatangkan para pendiri MGG, Menteri ESDM Jero Wacik, Prof. I Dewa Gede Raka, dan Mantan Rektor ITB, Prof. Wiranto Arismunandar. Lebih dari puas rasanya, di akhir kepengurusan, kerja kerasnya terbayarkan. Namun, ada satu keinginan ambisius yang tak dapat ia lakukan selama masa kepemimpinannya yaitu Dewa ingin mendatangkan semua mantan ketua MGG saat diesnya.

Dewa menyadari setahun merupakan waktu yang singkat untuk memimpin sebuah organisasi yang telah mempunyai nama besar di kampus ITB. “Saya tahu saya belum mampu menyentuh semua anggota MGG untuk berkegiatan di organisasi yang bernapaskan kesenian bali ini.”, tukasnya. Untuk itu, Dewa menaruh harapan besar kepada ketua MGG selanjutnya agar mampu merangkul semua anggota MGG dalam satu wadah berasaskan kekeluargaan.  Dewa berharap penerusnya kelak adalah orang yang bisa bersikap tegas, sigap, inisiatif tinggi, kerja keras, persuasif, terjun langsung ke lapangan, dan mengutamakan kepentingan MGG di atas kepentingan organisasi lain. Ia berpesan bahwasanya seorang ketua MGG haruslah orang yang fokus 100% memimpin MGG dengan penuh totalitas. Baginya merupakan sebuah hal mendasar, seorang ketua harus mampu membuat para anggota dan alumni bangga menjadi bagian dari Maha Gotra Ganesha. Siapapun nanti yang terpilih menjadi ketua MGG, Dewa memberikan tantangan untuk mengadakan pelatihan tari pendet massal dengan 300 orang peserta dan sponsorship yang didapatkan lebih besar dibandingkan dies sebelumnya.

Menanggapi adanya dua calon ketua MGG yang bersaing yaitu Made Dedi Ariantina dan I Gusti Agung Gde Bima Yuda, Dewa memberikan sedikit penilaian kepada mereka. Dedi adalah orang yang mampu memberdayakan stafnya, mau turun langsung ke lapangan, sigap, namun kurang inisiatif. Ia berpesan kepada Dedi untuk belajar berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan lebih ekspresif serta jangan mudah disetir orang lain. Di sisi lain, Bima adalah orang yang fokus dengan pekerjaan di divisinya, peduli dengan anggota yang lain, namun belum  bisa merangkul anggota. Ia berpesan kepada Bima untuk meningkatkan keberanian berbicara di depan  umum dan  menghilangkan kesan diri study oriented. Di penghujung wawancara yang penulis lakukan dengan mahasiswa jurusan Teknik Sipil ini,  Dewa memberikan semangat kepada kedua calon, “Selamat berjuang bung menjadi the chosen one!”

 

Ngurah Pandu

Menghidupkan Tari dengan Wiraga, Wirama, dan Wirasa!

Kebanyakan para pemula menarikan tari bali hanya sebagai sebuah olah tubuh yang menyatu dengan irama gamelan. Bukan sebagai pengekspresikan karakter yang menyampaikan pesan kepada para penonton. Apabila hal ini disadari lebih awal, maka bukan merupakan hal yang mustahil seorang pemula dapat membawakan sebuah tarian bali dengan apik. 

Image Menghidupkan sebuah tarian memerlukan penguasaan dasar, teknik dan penjiwaan tari. Ibarat sebuah pohon, seorang penari harus memiliki akar dasar tari yang kuat. Tumbuh menerobos ke dalam tanah, serabut menyebar luas menggenggam tanah.  Dengan dasar tari yang kuat, seorang penari akan dengan mudah untuk tumbuh berkembang mempelajari berbagai jenis tarian baik itu tari klasik maupun tari kreasi. Sebagai sebuah tolak ukur, seorang pemula hendaknya mengetahui tiga kekuatan yang harus dikuasai seorang penari : Wiraga, Wirama, dan Wirasa.

Wiraga adalah kemampuan olah gerak penari yang divisualisasikan dalam bentuk agem. Agem merupakan posisi pokok/dasar tubuh dalam suatu jenis tarian yang memiliki arti tertentu. Setiap tarian memiliki agem yang berbeda-beda sesuai dengan tariannya. Misalnya saja, agem tari baris tunggal dengan kedua bahu diangkat menenggelamkan leher dan kedua lengan menyiku tajam ditambah ekspresi mata membelalak. Agem ini menggambarkan karakter seorang ksatria yang gagah berani siap maju ke medan perang.

Image

Wirama adalah kemampuan menyelaraskan tarian dengan alunan gamelan.  Seorang penari yang baik harus mendengarkan iringan gamelan sehingga gerakan tarian terlihat sebagai satu kesatuan utuh dengan irama gamelan. Misalnya saja, penari kebyar duduk melakukan pindah posisi dari agem kiri ke agem kanan kemudian seledet ke kanan lalu kipek ke kiri. Sebelum penari melakukan pindah agem, ia harus mendengarkan gamelan untuk mencari ‘angsel’ (transisi dinamika musik) yang tepat. Gerakan nyeledet dan kipek pun harus pas dengan pukulan tukang kendang sehingga gerakannya terlihat lebih mantap. Berkaitan dengan hal ini, penari harus cermat mendengarkan alunan gamelan dan dituntut untuk tahu kapan waktu yang tepat untuk mencari ‘angsel’.

Image

Wirasa adalah kemampuan untuk menghayati tarian yang dimanifestasikan dalam bentuk ekspresi wajah dan pengaturan emosi diri. Hidupnya suatu tarian sangat dipengaruhi oleh penjiwaan sang penari dalam memerankan karakter yang dibawakannya. Misalnya saja, tari cendrawasih yang mengambarkan sepasang burung cendrawasih yang sedang memadu kasih. Ibarat seorang cowok yang pedekatein cewek, ada saat sang burung betina jual mahal, ada saat ia menunjukkan ketertarikannya kepada sang burung jantan.  Untuk membawakan tarian cendrawasih ini, sang penari harus berakting layaknya pasangan yang sedang kasmaran sehingga penonton dapat menangkap maksud dari tari cendrawasih ini. Untuk memudahkan menjiwai suatu tarian, seorang pemula hendaknya mengetahui latar belakang terciptanya dan karakter dari tarian tersebut. Akan lebih mudah lagi, apabila penari sudah hafal gerakan dan mampu menyelaraskan tarian dengan gamelan, secara alami penari akan dengan mudah menyelami tiap gerak yang dilakoninya.

Wiraga, wirama, dan wirasa merupakan komponen tari yang saling melingkapi satu sama lain. Mungkin diantara kita pernah menonton sebuah performance tari bali yang begitu ber’taksu’ (red : kharisma) hingga kita tak sadar mata kita seakan tak berkedip melihat aksinya. Begitu hidup! Hasil perpaduan tiga kekuatan itu. Tak mudah memang belajar tari bali, butuh usaha dan perjalanan waktu yang panjang untuk menaklukkannya. Oleh karenanya, bangkitkanlah motivasi dalam diri sebelum mulai belajar tari bali. Setelah itu mulailah perlahan-lahan menguasai wiraga dan wirama, lalu hidupkan tarianmu dengan wirasa. Selamat mencoba kawan!

Ngurah Pandu

Dirgahayu ke-41 Maha Gotra Ganeshaku!

Dirgahayu ke-41 Maha Gotra Ganeshaku!

Keep calm MGG :p

Aksi Cantik Maha Gotra Ganesha di ESPOSE 2012!

Seakan menjadi artis! Hmm begitulah perasaan yang muncul di hati para penari dan penabuh Maha Gotra Ganesha saat tampil mengiringi Tesla Manaf, Tulus, dan Ipang di ESPOSE 2012. Bagaimana tidak? ribuan mata penonton tertuju pada mereka dan ribuan penonton pun mendengar nama Maha Gotra Ganesha diteriakkan. Haru biru dan bangga, begitulah perasaan yang muncul di hati para anggota MGG yang menonton saat itu. Seakan tak percaya, unit yang bersekretariat di Gedung eks MKOR menampilkan performance sepanggung dengan artis-artis berkelas nasional. Tak berlebihan rasanya bila menyebut Maha Gotra Ganesha memang pantas disejajarkan dengan artis.

ESPOSE 2012 adalah sebuah acara musik yang dimotori oleh Fakultas Ekonomi UNPAD dan mengangkat tema “Chain The Ehtnicity Through Musicology”. Tak tanggung-tanggung, MGG diberi kesempatan membuka acara tersebut dengan menampilkan sebuah tarian kreasi yang digarap oleh anak-anak MGG sendiri dan diiringi oleh gamelan Gong Kebyar. Dinamis, ekpresif, dan  memukau, begitulah penampilan para penari membawakan tari kreasi yang dipersiapakan selama kurang lebih dalam waktu sebulan ini. Sontak, penampilan MGG pun menarik perhatian hadirin dan penonton mulai banyak berdatangan memenuhi auditorium Sasana Budaya Ganesha ITB. 

Image

Tak lama berselang, Tesla Manaf feat MGG mulai mengusik telinga penonton dengan kolaborasi Musik Jazz dengan alunan gamelan Bali. Perpaduan yang indah dan dinamis, begitulah kesan yang ditampilkan oleh artis yang telah merilis album pertama bertajuk It’s All Yours pada 15 September 2011 lalu. Selama kurang lebih 40 menit, Tesla ft MGG membawakan 5 track dari 6 track yang ada di album pertama mereka. Suara kecak, akapela ala bali dan suara cengceng, simbal versi bali pun melengkapi kolaborasi mereka seakan menambah kentalnya ciri khas musik pada penampilan mereka.

Image

Berselang 2 jam, Tulus pun menyambut para fansnya yang kebanyakan wanita sembari mengajak mereka ikut bernyanyi. “Awalnya saya penasaran bagaimana jadinya lagu saya apabila dipadupadankan dengan gamelan bali. Ternyata, wow! Saya tak pernah menyangka akan sebagus ini hasilnya. Kolaborasi ini tak sabar ingin saya bawakan dan sangat saya nanti-nanti” begitu Tulus berucap kepada penonton. Tulus pun kemudian mempersilahkan MGG untuk naik ke panggung dan mempersiapkan diri mengiringi lagu Tuan Nona Kesepian. Begitu manis terdengar, itulah kesan nyanyian tulus diiringi oleh gamelan Bali. Lagu ini seakan mempunyai ‘spirit’ baru berbeda dengan versi aslinya tanpa diiringi gamelan. Tak hanya itu, suling bali yang ditiup oleh Argo Cahyadi, mantan Menteri Seni Budaya KM ITB menjadi intro dan pengiring lagu ‘Teman Hidup’ yang dinyanyikan oleh Tulus saat itu. Tulus begitu bangga sekali bisa berkolaborasi dengan Maha Gotra Ganesha dan sangat menantikan kesempatan berikutnya untuk manggung bareng lagi.

Image

Seakan belum puas menggeber panggung ESPOSE 2012 dengan alunan gamelan Bali, MGG pun kembali tampil berkolaborasi dengan Ipang Lazuardi. Kali ini lagu ‘Sahabat Kecil’ yang merupakan OST Laskar Pelangi diselaraskan dengan alunan gamelan Bali. Namun sayang, saat penampilan berlangsung, suara gamelan tak begitu terdengar karena suara alat musik lain yang seakan menenggelamkan suara gamelan.  Andaikan, lagu tersebut dibawakan secara akustik dan diiringi oleh gamelan, tentunya akan menjadi sebuah kolaborasi yang sangat indah. Ipang pun baru pertama kali berkolaborasi dengan musik bali dan mengatakan begitu beruntung mempunyai kesempatan berkolaborasi dengan salah satu kebudayaan Indonesia.

Image

Wah cantik bangetlah penampilan MGG di ESPOSE 2012 ini! Artis sekelas Tulus dan Ipang saja sangat antusias kolaborasi sama MGG. Kalo ada sumur di ladang, mudah-mudahan MGG bisa menumpang mandi lagi, eh..eh maksudnya berkolaborasi lagi :p. Semoga karya-karya MGG gak berhenti sampai disini dan MGG semakin berprestasi. Jayalah Maha Gotra Ganeshaku!

Foto-foto diambil dari flickr jazzuality.com dan dokumentasi Rakananda MGG’11

Sebuah Kisah Tentang Kehangatan Keluarga bernama Maha Gotra Ganesha

Siktar Sikbyuk Siktar Sikbyuk Siktar Tar Sigotar Byar Car Syar Byuk Sir!” Begitu keras salam Siktar diserukan MGGers saat penutupan  Malam Wisudaan MGG, 21 April 2012 di Seven Cafe Setiabudi. Entah karena dipimpin oleh seorang Gede Deny Kharisman, wisudawan yang juga mantan Ketua MGG atau semangat MGGers yang begitu mengapresiasi para wisudawannya karena telah menyelesaikan studi di Kawah Candradimuka bernama ITB. Hmm, kayaknya dua-duanya deh!😄.

Walaupun acaranya diadakan jauh dari kampus, niat MGGers untuk datang merayakan kelulusan wisudawan dan wisudawatinya patut diacungi jempol (y). Bayangkan saja, jumlah anggota yang hadir mencapai 70an orang, jumlah yang cukup fantastis untuk sebuah acara intern MGG. Hal ini menunjukkan rasa kekeluargaan antar anggota MGG semakin terjalin erat. Berbanding terbalik dengan hal tersebut, jumlah wisudawan yang hadir hanya 5 orang dari total 13 orang karena berbagai halangan yang menghadang. Namun hal tersebut tak mengurangi makna dan keceriaan wisnite yang diadakan di cafe yang begitu cozy tersebut.

-MGG 2011 menari bersama mummy :p- Continue reading