Kala Rau : Sekelumit Kisah Terjadinya Gerhana

kala Rau

kala Rau

Berawal dari pemutaran Mandara Giri oleh para dewa, detya, dan raksasa di lautan Ksirarnawa untuk mendapatkan tirta amerta, air suci yang dapat membuat seseorang hidup abadi. Dalam pengadukan lautan susu tersebut, Dewa Wisnu menjelma sebagai kurma (kura-kura) sebagai penyangga gunung Mandara agar gunung tersebut tidak tenggelam. Naga Basuki membelit gunung tersebut sebagai tali yang kemudian ditarik oleh Para Dewa, Detya dan Raksasa. Para dewa memegang ekor sang naga sedangkan para detya dan raksasa memegang kepalanya. Dewa Indra memegang puncak gunung tersebut agar tidak melambung ke atas selama pemutaran gunung. Dengan semangatnya para dewa, detya, dan raksasa berusaha mengaduk lautan Ksirarnawa dengan memutar gunung Mandara. Lautan menjadi bergemuruh dan gunung pun menyala. Setelah itu keluarlah berbagai dewi, binatang, dan berbagai harta karun bertuah. Akhirnya, keluarlah Dewi Dhanwantari membawa kendi yang berisi tirta amerta. Karena harta karun yang sebelumnya keluar telah diambil semua oleh para Dewa maka para raksasa menuntut tirta amerta dimiliki oleh mereka. Tirta amerta pun kemudian dikuasai oleh para detya dan raksasa.

Melihat tirta amerta berada di tangan detya dan raksasa, Dewa Wisnu menjadi khawatir dan memikirkan siasat untuk merebutnya. Dewa Wisnu pun mengubah wujudnya menjadi seorang dewi cantik bernama Mohini untuk memikat hati para detya dan raksasa. Mereka pun akhirnya terpikat oleh kecantikan Mohini dan menyerahkan tirta amerta tersebut kepadanya. Setelah mendapatkan tirta amerta, dewi Mohini pun lari sembari berubah wujud menjadi Dewa Wisnu. Melihat hal tersebut para detya dan raksasa pun menjadi berang. Kemudian terjadilah pertempuran sengit antara para dewa dengan detya dan raksasa. Dewa wisnu pun lalu mengeluarkan senjata cakranya dan menyambar-nyambar para detya dan raksasa. Mereka pun lari tunggang langgang karena mengalami kekelahan dari para dewa dan Tirta amerta pun dikuasai oleh para dewa.

Di Wisnu loka tirta amerta pun dibagi-bagikan kepada para dewa sehingga mereka hidup abadi. Mengetahui hal tersebut, seorang raksasa yang merupakan anak sang Wipracitti dan sang Singhika bernama Kalarau merubah wujudnya menyamar menjadi dewa. Sayangnya, hal tersebut diketahui oleh Sang Hyang Adtya dan Sang Hyang Candra dan langsung diberitahukan kepada dewa Wisnu. Tepat ketika raksasa yang menyamar tersebut mendapat giliran meminum tirta amerta, betapa bahagianya ia dapat meminumnya. Namun, baru sampai tirta amerta tersebut di tenggoraknnya, Dewa Wisnu seketika menghempaskan Cakranya memenggal leher sang raksasa hingga kepalanya terpisah dari badannya. Badan raksasa itupun mati tetapi kepalanya masih hidup karena tirta amerta telah menyentuh hingga tenggoroakannya. Sang Raksasa pun menjadi marah kepada Sang Hyang Aditya dan Sang Hyang Candra karena mengacaukan penyamarannya dan Kalarau pun bersumpah akan memakan mereka pada saat pertengahan bulan.

(pd) based on Adhi Parwa

One response to this post.

  1. Kren nUk,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: